Semua Ada Waktunya

Ini adalah tulisan saya yang pertama bukan tutorial.

Di blog ini saya tidak hanya menulis tentang koding, desain atau internet marketing.

Tapi, sudah saya putuskan ini adalah blog pribadi saya. Jadi, semua yang ada di uneg-uneg, di pikiran saya akan saya tulis di sini .

Hanya berbagi saja…

Itulah tagline blog ini. Jadi, ya bener-bener pure pengen berbagi saja.

Setelah saya merenung dan bertemu banyak orang, saya masuk dalam suatu kesimpulan bahwa: semua itu ada waktunya...

Maksudnya seperti ini.

Ada orang yang sekolah dari SD sampai S1 lancar, cepat dan nilai bagus. Tapi ketika S2 energinya habis.

Ada yang sampai S1 nilai pas-pasan dan terancam DO, tapi ketika S2 langsung terbaik tercepat.

Mana yang bagus?

Keduanya bagus, tidak ada yang salah.

Semuanya tergantung “kapan” kita menilai dua keadaan tersebut. Seringkali kita salah menilai sesuatu karena waktu penilaiannya tidak tepat.

Sering bukan? Kita menilai anak yang cuma tiduran aja di kelas, tapi 20 tahun kemudian jadi pengusaha sukses?

Sebaliknya, anak yang selalu ranking 1, kerjaannya standard midle class.

Mana yang lebih baik?

Balik lagi, semuanya baik. Gak ada yang buruk.

Baik buruk itu bagi saya itu sangat kondisional, bukan berarti baik buruk itu tidak ada.

Misalnya seperti ini, ada sebuah pisau. Itu baik apa buruk? Ya baik kalau buat memasak, buruk kalau buat mencelakai orang bukan?

Nah, jadi asumsi itu menjadi buruk itu tergantung “waktu dan cara penggunaannya”.’

Dengan memahami bahwa semua ada waktunya kita jadi semakin positif thinking dan tidak mudah menjastifikasi seseorang.

Misalnya, ada yang kuliah sampai 7 tahun. Bisa jadi, dia kuliah sekian lama karena memang ada beban yang ia pikul.

Bisa jadi, ketika ia lulus dan diwisuda, dihari yang sama dia dapat kerjaan atau deal proyek yang besar.

Tapi, ada juga yang kuliah 3,5 tahun tapi bingung terus mau ngapain?

Apakah itu salah? Ya tidak salah!

Ingat, disini saya tidak akan katakan mana yang benar mana yang salah.

Yang ingin saya tekankan adalah:

Semua ada waktunya, kalau belum? Berarti emang belum waktunya

Karena, balik lagi. Penilaian sukses tidak itu tergantung waktu kapan kita menilai.

Misal,

Si A tidak kuliah tapi berbisnis. Di umur 22 udah terlihat sukses, beli mobil, beli rumah, beli ini dan itu.

Ketika dia di umur 22 itu orang akan menilai “tuh, ngapain kuliah? Si A bisa sukses di umur yang masih muda”.

Tapi, 4 tahun kemudian di umur 26 dia bangkrut dan harus menjual semuanya. Komentar orang akan beda lagi “tuh lihat, dia malah susah! kasian ya. Mending si B, kerja kantoran biasa-biasa aja tapi gak susah”.

POV si B

Si B kuliah, disaat si A udah sukses dia baru lulus kuliah di umur 22. Dia baru dapat kerja di umur 23.

Dan pandangan orang “lah ngapain kuliah, si A aja gak kuliah sukses. Kamu? Udah kuliah, dapat kerjanya lama lagi!”.

Lalu ketika di umur 26 si A bangkrut, orang akan berkomentar “untung kamu kuliah ya, walaupun kerja kek gini yang penting pas dan cukup. Gak kaya si A”.

Seeee?

Jangan anggap serius setiap ucapan orang lain, dengerin tapi gak harus diturutin.

Semua orang (termasuk kita) kebanyakan hanya akan menilai kejadian yang sekarang.

Kesimpulannya…

Jangan mudah menghakimi orang yang belum berhasil, dan jangan mudah menghakimi orang yang sudah sukses.

Setiap orang punya timeline waktunya masing-masing. Jangan sama ratakan timeline setiap orang.

Jika ada tmen yang lagi drop dan frustasi. Jangan pernah hakimi, dengerin dia ngomong dan bilang:

“saya memahami apa yang kamu rasakan, kamu sudah cukup berusaha, kalau hasilnya belum terlihat memang belum waktunya. Percaya, Tuhan pasti akan memberikan di waktu yang tepat”

Leave a Comment